Sabtu, 10 Februari 2018

Cinta Dalam Semangkuk Soto (bagian 1)




(serial catatan bisnis ala pak syam, tukang soto klaten)


Awalnya saya cukup lama memendam keinginan untuk berbisnis. Setelah melalui berbagai perjuangan dan do’a ala bang Haji Rhoma Irama, akhirnya alhamdulillah sekarang keinginan itu sudah terkabul. Walaupun kalau ditakar dari kacamata para pebisnis profesional, bisnis saya saat ini wujudnya masih sederhana. Tapi bagi saya pribadi, hal ini sudah sangat saya syukuri.


Sebelum saya menetapkan pilihan pada bisnis yang sekarang ini, saya sudah mencoba beberapa jenis lain. Kami pernah mencoba bisnis bimbingan belajar, membuka cabang lembaga pelatihan managemen, terjun ke bisnis fashion, join toko kelontong dan lain-lain.



Saya memang menaruh minat yang besar pada bidang bisnis. Untuk mensupport bisnis, saya membeli banyak buku terutama buku-buku bertema wirausaha dan motivasi. Semuanya saya pelajari dengan sungguh-sungguh. Berbagai artikel tentang wirausaha juga saya lahap dengan antusias.

Juga tak ketinggalan berbagai seminar dan pelatihan bisnis saya ikuti. Dari situ motivasi saya terus terpelihara. Ide bisnis bermunculan, alhamdulillah. Ini pertanda baik.
  



Setelah bergelut dengan berbagai ide bisnis akhirnya saya menetapkan pilihan bisnis penangkaran burung. Pilihan ini sesuai dengan hobi dan minat saya. Dari pilihan ini akhirnya saya berhasil mengembangkan beberapa spesies burung yang cukup laku di pasaran. Mulai dari burung kenari, burung jalak suren, burung cucak rawa, burung murai batu, burung jalak putih dan terakhir burung jalak bali. Alhamdulillah semuanya sudah menghasilkan uang kecuali burung cucak rawa. Sampai hari ini saya masih penasaran dengan yang memiliki suara emas itu yang harganya cenderung naik ini.

Bagi anda yang belum pernah kepikiran berbisnis burung, coba sesekali browsing tentang berapa omset perbulan pasar burung semacam Pasar Burung Depok di Solo, PASTY di Jogjakarta, Pasar Burung Bratang di Surabaya atau Pasar Burung Pramuka di Jakarta. Ternyata omsetnya puluhan milyar ya. Pantas untuk dilirik kan ?

Selama menjalani bisnis burung tersebut, selama itu pula kecintaan saya pada bidang kuliner tak pernah tidur. Dari dulu kuliner memang menjadi bidang yang menarik minat saya, walaupun saya sendiri sebenarnya tidak hobi kulineran. Tapi dari sisi bisnis saya sangat tertarik dengan bidang ini. Saya benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Maka di sinilah cinta saya pada bisnis kuliner bersemi kembali.

Awalnya memang banyak di diprovokasi oleh tabloid kuliner. Setiap terbit edisi baru selalu pingin mengoleksi. Saya baca setiap artikelnya dengan lahap. Setiap membaca ulasan tentang bisnis kuliner dalam tabloid tersebut imajinasi saya selalu membumbung ke udara menari-nari kesana-kemari minta segera dibelikan bumbu-bumbu dapur untuk segera memulai masak. Setiap selesai makan di suatu rumah makan atau di warung tenda, keinginan itu kembali datang untuk menagih, kapan bikin rumah makan?

Namun keinginan itu selalu saja terganjal oleh kesibukan saya. Maklum waktu itu saya memang masih kesulitan untuk mengalokasikan waktu agar bisa fokus mengurus bisnis kuliner. Sekarang alhamdulillah walaupun saya belum bisa fokus sepenuhnya, tapi Allah sudah menamanahkan sebuah warung soto untuk saya kelola. Alhamdulillah.

Jujur kalau berbicara tentang wirausaha saya memang sangat antusias. Buat saya wirausaha bukan sekedar ikhtiyar untuk mendapatkan uang. Ada banyak motif yang lebih mulia dari sekedar mendapatkan income dari kegiatan bisnis tersebut. Walaupun mendapatkan uang dari bisnis itu sendiri juga sangat mulia. Namun saya memilih untuk memaknai kemuliaan bisnis dalam makna yang lebih luas lagi. Yaitu kemanfaatan kepada orang lain.

Dan sekarang ini saya menekuni bisnis saya dengan beberapa motif. Motif saya yang utama adalah mencari tambahan income, memberikan pendidikan kewirausahaan kepada anak saya, mencoba memberi teladan dalam dakwah, sebagai laboratorium wirausaha bagi teman dan saudara, belajar mengaplikasikan ilmu Magnet Rezekinya Ustadz Nashrullah yang katanya sukses dalam bisnis itu mudah dan lain-lain. 

Kalau dibuat daftar memang ada banyak motif di sana, namun jika disandingkan sebenarnya motifnya cuma satu yaitu cinta. Kok bisa ? Iya semua motif yan saya sebutkan di atas basicnya cinta. Maka apapun rumusan motif bisnis kita, basicnya harus rasa cinta.

Saya berusaha untuk disiplin dengan motif-motif tersebut, karena bagi saya tidak ada kebaikan dari suatu aktifitas jika tidak ada kemanfaatan bagi orang lain. Maka aktivitas wirausaha ini buat saya humumnya wajib untuk mendasarkannya pada kemanfaatan bagi sesama. Baik kemanfaatan pada prosesnya maupun kemanfatan pada tujuan akhirnya. Kemanfaatan pada pengembangan ilmu bisnisnya maupun kemanfatan pada pemanfaatan hasil bisnisnya itu sendiri. Kemanfaatan pada tataran pribadi maupun kemanfaatan sosial. Semoga Allah memudahkan urusan ini, aamiin.


bersambung . . . 



Soto Berkah Klaten (Soto Nikmat, Harga Sejuta Ummat)
Timur Proliman Bramen Sekarsuli Klaten Utara
 (seberang Star Steak Proliman Bramen)